Kamis, 16 September 2021

INFLASI: KURVA PHILLIPS

MODEL DINAMIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN AGREGRATE


Seperti namanya, model baru ini menekankan sifat dinamis dari fluktuasi ekonomi sebagai "yang ditandai dengan perubahan atau aktivitas yang terus menerus." Definisi ini segera berlaku pada perekonomian yang terus dihujani berbagai guncangan. Guncangan ini berdampak langsung pada ekuilibrium jangka pendek perekonomian, dan juga mempengaruhi jalur output berikutnya, inflasi, dan banyak variabel lainnya. Dinamika model AD – AS memusatkan perhatian pada bagaimana output dan inflasi merespon dari waktu ke waktu terhadap perubahan eksogen dalam lingkungan ekonomi.

Selain lebih menekankan pada dinamika, model ini berbeda dari model sebelumnya: model ini secara eksplisit menggabungkan respons kebijakan moneter terhadap kondisi ekonomi. Pada bab-bab sebelumnya, kita mengetahui penyederhanaan konvensional bahwa bank sentral menetapkan jumlah uang beredar, yang menjadi penentu tingkat bunga ekuilibrium. Namun, di dunia nyata, banyak bank sentral menetapkan target tingkat suku bunga dan membiarkan jumlah uang beredar menyesuaikan ke tingkat apa pun yang diperlukan untuk mencapai target tersebut. Selain itu, target suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral bergantung pada ekonomi kondisi, termasuk inflasi dan output. Salah satu persamaan yang digunakan dalam model AD-AS dinamis adalah:

 

Inflasi: Kurva Phillips

Inflasi dalam perekonomian ini ditentukan oleh kurva Phillips konvensional ditambah dengan peran ekspektasi inflasi dan guncangan penawaran eksogen. Persamaannya adalah:
ᴨt = Et-1ᴨt + φ (Yt – Yt) + υt  

Model ini mirip dengan kurva Phillips dan persamaan penawaran agregat jangka pendek di bab sebelumnya dimana output bergantung secara positif pada tingkat harga dalam jangka pendek. Terdapat dua penyebab yang mempengaruhi inflasi, yaitu inflasi cost-push artinya jika ada guncangan penawaran yang merugikan akan mendorong perusahaan untuk menaikkan harga yang mendorong inflasi naik dan inflasi demand-pull artinya ketika terdapat guncangan positif di permintaan agregrat akan menyebabkan pengangguran menurun dibawah tingkat alaminya dan mendorong tingkat inflasi naik. Dan menurut persamaan ini, inflasi ᴨt tergantung pada ekspektasi inflasi karena beberapa perusahaan menetapkan harga di muka. Ketika perusahaan mengharapkan inflasi yang tinggi, mereka mengantisipasi bahwa biaya mereka akan naik dengan cepat dan pesaing mereka akan menerapkan kenaikan harga yang substansial. Kenaikan harga ini pada gilirannya menyebabkan inflasi aktual yang tinggi dalam perekonomian secara keseluruhan. Kemudian, ketika perusahaan mengharapkan inflasi yang rendah, mereka memperkirakan bahwa biaya dan harga pesaing hanya akan naik sedikit. Dalam kasus ini, mereka menahan kenaikan harga mereka sendiri, yang menyebabkan inflasi aktualnya rendah.

Parameter φ, lebih besar dari nol, mengindikasikan seberapa besar respons inflasi ketika output berfluktuasi di sekitar tingkat alaminya. Ketika ekonomi sedang booming dan output naik di atas tingkat alaminya, perusahaan mengalami peningkatan biaya marjinal yang menaikkan harga. Sebaliknya ketika ekonomi berada dalam resesi dan output di bawah tingkat alaminya, biaya marjinal turun maka perusahaan akan memotong harga. Parameter φ mencerminkan seberapa besar biaya marjinal merespon keadaan aktivitas ekonomi dan seberapa cepat perusahaan menyesuaikan harga sebagai respons terhadap perubahan biaya.

Dalam model ini, keadaan siklus bisnis diukur dari penyimpangan output dari tingkat alaminya (Yt – Yt). Sedangkan kurva Phillips di bab sebelumnya tentang tradeoff jangka pendek antara inflasi dan pengangguran sehingga menekankan penyimpangan pengangguran dari tingkat alaminya. Namun perbedaan ini tidak signifikan. Ingat hukum Okun: Fluktuasi jangka pendek dalam output dan pengangguran berkorelasi kuat dan negatif. Ketika output di atas tingkat alaminya, pengangguran berada di bawah tingkat alaminya, dan sebaliknya. Dalam pengembangan model ini, perlu diingat bahwa pengangguran berfluktuasi bersama dengan output, tetapi dalam arah yang berlawanan.

Guncangan penawaran υt adalah variabel acak yang rata-rata nol tetapi dalam periode tertentu bisa positif atau negatif. Variabel ini menangkap semua pengaruh pada inflasi selain ekspektasi inflasi (yang ditangkap dalam Et-1ᴨt) dan kondisi ekonomi jangka pendek [yang ditangkap dalam φ (Yt – Yt)]. Misalnya, jika kartel minyak yang agresif mendorong harga minyak dunia, sehingga meningkatkan inflasi secara keseluruhan, peristiwa itu akan diwakili oleh nilai positif dari υt. Sebaliknya kerjasama di dalam kartel minyak rusak dan harga minyak dunia anjlok, menyebabkan inflasi turun, υt akan menjadi negatif. Singkatnya, υt mencerminkan semua peristiwa eksogen yang secara langsung mempengaruhi inflasi.

Asumsinya, inflasi akan tinggi ketika orang di masa lalu mengharapkannya menjadi tinggi, permintaan saat ini tinggi (relatif terhadap PDB alami) dan terdapat guncangan inflasi yang tinggi. Artinya, jika harga naik dengan cepat karena beberapa alasan eksogen seperti kelangkaan minyak impor atau kelangkaan pangan yang disebabkan oleh kekeringan.

 

Kurva Penawaran Agregat Dinamis

Untuk mempelajari perilaku perekonomian ini dalam jangka pendek, perlu menganalisis model secara grafis. Karena grafik memiliki dua sumbu maka variabel output Yt dan inflasi ᴨt menjadi perhatian utama. Seperti pada model AD – AS konvensional, output akan berada pada sumbu horizontal. Tetapi tingkat harga akan diwakili tingkat inflasi di sumbu vertikal.

Untuk menghasilkan grafik ini dibutuhkan dua persamaan untuk mengisolasi hubungan antara output Yt dan ᴨt. Hubungan pertama antara output dan inflasi terjadi di persamaan kurva Phillips dengan mengganti satu variabel endogen dalam persamaan (Et-1ᴨt) di persamaan ekspektasi (Et-1ᴨt =ᴨt-1) untuk menggantikan inflasi masa lalu ᴨt-1 dari ekspektasi inflasi Et-1ᴨt. Dengan substitusi, persamaan kurva Phillips menjadi
ᴨt = ᴨt-1 + φ (Yt – Yt) + υt                                ( DAS)

Persamaan ini menghubungkan inflasi ᴨt dan output Yt dengan dua variabel eksogen (Yt dan υt) dan variabel yang telah ditentukan (ᴨt-1).

Kesimpulan kurva DAS adalah: pertama, kurva DAS miring ke atas. Kedua, ketika output berada di tingkat alaminya Yt = Y, maka ketinggian kurva DAS selalu  ᴨt-1 + υt. Artinya, ketika perekonomian berada pada kesempatan kerja penuh, ketinggian kurva DAS mewarisi inflasi sebelumnya ditambah guncangan penawaran saat ini. Terakhir, pergeseran dalam kurva DAS terjadi setiap kenaikan (penurunan) dalam inflasi periode sebelumnya atau dalam guncangan inflasi periode saat ini menggeser DAS kurva ke atas (bawah) dengan jumlah yang sama dan setiap kenaikan (penurunan) dalam PDB alami menggeser DAS kurva ke kanan (kiri) sebesar jumlah yang sama.

Kurva Penawaran Agregat Dinamis DASt menunjukkan hubungan positif antara output Yt dan inflasi ᴨt, Kurva DAS menunjukkan bagaimana inflasi dikaitkan dengan output dalam jangka pendek  Kemiringan ke atas mencerminkan hubungan kurva Phillips: Hal yang sama, tingkat aktivitas ekonomi yang tinggi dikaitkan dengan inflasi yang tinggi. Dikarenakan tarikan permintaan inflasi. Kurva penawaran agregat dinamis digambar untuk nilai yang diberikan dari inflasi masa lalu ᴨt-1, tingkat output alaminya Yt, dan guncangan penawaran υt. Saat variabel-variabel ini berubah, kurva DAS akan bergeser.

Guncangan terhadap Penawaran Agregat

Dalam keseimbangan perekonomian jangka pendek ditentukan oleh perpotongan antara kurva permintaan agregat dinamis dan kurva penawaran agregat dinamis. Ketika terjadi peningkatan inflasi periode sebelumnya (πt-1) atau guncangan inflasi saat ini (νt) akan mengurangi output dan segera meningkatkan inflasi (stagflasi).

 Pertimbangkan ketika terjadi guncangan di penawaran agregat. Secara khusus, anggap saja υt naik menjadi 1 persen untuk satu periode dan kemudian kembali ke nol. Ini mengejutkan kurva Phillips, misalnya, karena kartel minyak internasional menaikkan harga atau karena perjanjian serikat pekerja yang baru menaikkan upah dan biaya produksi. Secara umum, penawaran shock υt menangkap peristiwa apa pun yang mempengaruhi inflasi di luar ekspektasi inflasi Et-1ᴨt dan aktivitas ekonomi saat ini, yang diukur dengan Yt – Yt.

Gambar 14-6 menunjukkan dalam periode t, saat guncangan terjadi, kurva penawaran agregat dinamis bergeser ke atas dari DASt-1 ke DASt . Tepatnya, kurva bergeser ke atas tepat sebesar guncangan, yang diasumsikan sebagai 1 persen. Karena penawaran shock υt bukan merupakan variabel dalam persamaan permintaan agregat dinamis, kurva DAD tidak berubah. Oleh karena itu, ekonomi bergerak di sepanjang kurva permintaan agregat dinamis dari titik A ke titik B. Seperti yang diilustrasikan pada gambar, guncangan penawaran dalam periode t menyebabkan inflasi meningkat ᴨt dan output jatuh Yt.

Efek ini bekerja sebagian melalui reaksi kebijakan moneter terhadap shock. Ketika guncangan penawaran menyebabkan inflasi naik, bank sentral merespons dengan mengikuti aturan kebijakannya dan menaikkan suku bunga nominal dan riil. Tingkat bunga riil yang lebih tinggi mengurangi jumlah barang dan jasa yang diminta, yang menekan output di bawah tingkat alaminya. (Rangkaian peristiwa ini diwakili oleh gerakan di sepanjang kurva DAD dari titik A ke titik B.) Tingkat output yang lebih rendah mengurangi tekanan inflasi sampai tingkat tertentu, sehingga inflasi naik agak kurang dari guncangan awal.

Pada periode setelah guncangan terjadi, ekspektasi inflasi lebih tinggi karena ekspektasi bergantung pada inflasi masa lalu. Dalam periode t + 1, misalnya, ekonomi berada di titik C. Meskipun variabel shock υt kembali ke nilai normalnya yaitu nol, kurva penawaran agregat dinamis tidak segera kembali ke awalnya posisi karena ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. Ingat: perekonomian yang berada dalam ekuilibrium jangka pendek tetapi tidak dalam ekuilibrium jangka panjang akan berubah — meskipun tidak ada guncangan. Ekonomi akan bergerak sepanjang kurva bersama DAD menuju lapangan kerja penuh di titik A di keseimbangan jangka panjang. Sehingga, ia perlahan-lahan bergeser kembali ke bawah menuju posisi awalnya DASt-1 karena tingkat aktivitas ekonomi yang lebih rendah mengurangi inflasi dan dengan demikian ekspektasi inflasi masa depan. Selama proses ini, output tetap berada di bawah tingkat alaminya.

Kesimpulannya adalah ekonomi tidak akan tetap diam jika pada ekuilibrium jangka pendek yang bukan ekuilibrium jangka panjang dan perekonomian selalu berakhir dalam ekuilibrium jangka panjang.

Guncangan Penawaran Sebuah shock penawaran dalam periode t menggeser kurva penawaran agregat dinamis ke atas dari DASt-1 ke DASt. Kurva permintaan agregat dinamis tidak berubah. Ekuilibrium ekonomi jangka pendek bergerak dari titik A ke titik B. Inflasi naik dan output turun. Di periode berikutnya (t + 1), kurva penawaran agregat dinamis bergeser ke DASt+1 dan ekonomi bergerak ke poin C. Guncangan penawaran telah kembali ke nilai normal nol, tetapi ekspektasi inflasi tetap tinggi. Akibatnya, perekonomian hanya kembali secara bertahap ke ekuilibrium awalnya, titik A.

Ini menggambarkan fenomena stagflasi dalam model dinamika AD – AS. Guncangan penawaran menyebabkan inflasi meningkat, yang pada gilirannya meningkatkan ekspektasi inflasi. Ketika bank sentral menerapkan aturannya untuk kebijakan moneter dan merespons dengan menaikkan suku bunga, secara bertahap menekan inflasi keluar dari sistem, tetapi dengan biaya penurunan yang berkepanjangan dalam aktivitas ekonomi.

 

Pergeseran Kebijakan Moneter

Misalkan bank sentral memutuskan untuk menurunkan target tingkat inflasi, bagaimana perekonomian akan bereaksi untuk perubahan kebijakan moneter ini. Maka target inflasi akan berpengaruh pada kurva permintaan agregat dinamis sedangkan kurva DAS tidak akan bergeser dikarenakan target inflasi tidak ada di dalam persamaan penawaran agregrat dinamis. Penjelasan atas perubahan tersebut ditunjukkan di gambar 14-10.

Penurunan dalam target inflasi akan menggeser kurva DAD ke kiri dari DADt+1 ke DADt,t+1 dimana perekonomian bergerak dari titik A ke titik B. Sehingga output dan inflasi pun turun tetapi target inflasi masih berada di atas targetnya sehingga bank sentral mengikuti aturan kebijakannya menaikkan tingkat bunga riil yang lebih tinggi yang mengurangi permintaan barang dan jasa. Ketika output turun, kurva Phillips memberi tahu kita bahwa inflasi juga turun. Inflasi yang lebih rendah, pada gilirannya, mengurangi tingkat inflasi yang diharapkan orang-orang di periode berikutnya. Dalam periode t + 1, inflasi yang diharapkan lebih rendah menggeser kurva penawaran agregat dinamis ke bawah, ke DASt+1. Pergeseran ini menggerakkan ekonomi dari titik B ke titik C, selanjutnya mengurangi inflasi dan memperluas output.  Seiring waktu dengan inflasi yang terus turun dan kurva DAS terus bergeser terhadap DAS terakhir, ekonomi mendekati keseimbangan jangka panjang yang baru di titik Z, di mana output kembali ke tingkat alaminya (Yfinal = Yall) dan inflasi berada pada titik baru di target yang lebih rendah (π*t,t+1,..= 1 persen).

Kesimpulannya adalah pada saat target inflasi diturunkan, output turun di bawah tingkat alaminya, dan inflasi juga turun ke tingkat target yang baru maka tingkat bunga riil naik di atas tingkat alaminya (ρ) sedangkan pengaruhnya terhadap tingkat bunga nominal (i = r + π) menjadi tidak pasti. Ketika output pulih dan secara bertahap kembali ke tingkat alaminya. Inflasi terus turun dan secara bertahap mendekati level target baru maka tingkat bunga riil turun, secara bertahap kembali ke tingkat alaminya (ρ) sedangkan tingkat bunga nominal jatuh ke tingkat jangka panjang yang baru dan yang lebih rendah (i = ρ + π*).

Sepanjang analisis ini asumsinya bahwa orang membentuk ekspektasi inflasi mereka berdasarkan inflasi yang baru-baru ini mereka alami atau akan merespons dengan mengubah ekspektasi inflasi mereka dengan segera/rasional. Jika demikian, kurva penawaran agregat dinamis akan segera bergeser ke bawah setelah perubahan kebijakan, tepat ketika kurva permintaan agregat dinamis bergeser ke bawah. Pada kasus ini, ekonomi akan segera mencapai ekuilibrium jangka panjang yang baru. Sebaliknya, jika masyarakat tidak mempercayai kebijakan inflasi rendah yang diumumkan sampai mereka melihatnya, maka asumsi ekspektasi adaptif adalah tepat, dan jalur transisi ke inflasi yang lebih rendah akan melibatkan periode kehilangan output.

 

Penerapan dalam Kebijakan Moneter

Dalam model dinamis ini selain mempengaruhi inflasi dan output, bisa menggunakan model untuk menjelaskan desain moneter kebijakan yaitu bagaimana berbagai guncangan mempengaruhi jalur output, inflasi, dan suku bunga. Apa yang seharusnya menjadi parameter aturan kebijakan moneter? Dengan dua parameter kunci dari aturan kebijakan θπ (tingkat ketanggapan target tingkat bunga terhadap inflasi) dan θY (tingkat ketanggapan target tingkat suku bunga terhadap output).

Ketika terjadi guncangan penawaran yang mengurangi output (buruk) dan meningkatkan inflasi (juga buruk). Bank sentral akan menghadapi tradeoff antara "hal buruk" ini - dapat mengurangi efek pada output, tetapi hanya dengan mentolerir peningkatan efek inflasi. Menurut
dinamika model  AD – AS, dampak guncangan ini sangat bergantung pada kemiringan kurva permintaan agregat dinamis yang memiliki dampak besar atau kecil pada output dan inflasi. Fenomena ini diilustrasikan pada gambar 14-12. Dalam dua panel gambar ini, perekonomian mengalami guncangan penawaran yang sama. Pada panel (a), guncangan penawaran menggeser kurva DAS ke atas dimana kurva permintaan agregat dinamis hampir datar karena pengaruh kecil pada inflasi tetapi berpengaruh besar pada output. Singkatnya, ketika ekonomi mengalami guncangan penawaran yang mendorong inflasi, aturan kebijakan bank sentral telah meresponnya dengan penuh semangat dengan suku bunga yang lebih tinggi. Tingkat suku bunga yang lebih tinggi secara signifikan mengurangi jumlah barang dan jasa yang diminta, sehingga menyebabkan resesi besar yang mengurangi dampak inflasi dari guncangan (yang merupakan tujuan dari respons kebijakan moneter)

Pada panel (b), kurva permintaan agregat dinamis curam, sehingga guncangan memiliki pengaruh besar pada inflasi tetapi pengaruh kecil pada output. Ceritanya justru sebaliknya: Ketika ekonomi mengalami guncangan penawaran yang mendorong inflasi, aturan kebijakan bank sentral hanya merespons dengan suku bunga yang sedikit lebih tinggi. Respons kebijakan kecil ini menghindari resesi besar tetapi mengakomodasi guncangan inflasi.

Dalam pilihan kebijakan moneter ini, bank sentral harus menentukan skenario yaitu variabilitas inflasi yang lebih kecil atau variabilitas output yang lebih sedikit. Atau dapat memilih antara dua skenario yang ekstrem ini yaitu variabilitas inflasi dan output tidak boleh berkurang.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa persamaan kurva Phillips dalam model dinamis AD-AS menentukan inflasi. Dalam menganalisis perilaku perekonomian jangka pendek dalam membentuk kurva penawaran agregrat dinamis menggunakan persamaan kurva Phillips dan persamaan ekspektasi adaptif. Sehingga ketika terjadi guncangan penawaran mengejutkan kurva Phillips karena υt menangkap peristiwa yang mempengaruhi inflasi di luar ekspektasi inflasi Et-1ᴨt dan aktivitas ekonomi saat ini Yt – Yt. Selain itu, kita bisa melihat reaksi kebijakan moneter ketika terjadi guncangan dengan melihat respon bank sentral baik menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga riil dan nominalnya yang akan mempengaruhi tingkat output dan inflasi. Kurva Phillips juga berperan dalam pergeseran kebijakan moneter ketika bank sentral menetapkan target tingkat inflasi dimana ketika bank sentral menetapkan target inflasi yang berpengaruh pada output maka inflasi juga akan berpengaruh di kurva Phillips.

Dalam parameter aturan kebijakan moneter ketika terjadi guncangan penawaran akan mempengaruhi kemiringan kurva permintaan agregat dinamis dan menentukan apakah memiliki efek yang lebih besar pada output atau inflasi. Sehingga pemilihan kebijakan moneter, bank sentral menghadapi tradeoff antara variabilitas output dan variabilitas inflasi.

Sumber: Mankiw, N. Gregory, 2003, Macroeconomics, Worth Publisher


Sabtu, 27 Februari 2021

BONUS DEMOGRAFI DALAM TENAGA KERJA DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

 

BONUS DEMOGRAFI DALAM TENAGA KERJA DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

 

Dari tahun ke tahun jumlah penduduk akan selalu bertambah di setiap belahan dunia dan tidak memungkiri Indonesia yang masih menjadi salah satu Negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia sebanyak 270 juta jiwa. Banyaknya jumlah penduduk juga menjadi tantangan terbesar bagi Pemerintah di era Revolusi Industri 4.0 ini untuk mensejahterakan penduduknya yang berasal dari berbagai kalangan pendapatan ekonomi. Sejak tahun 2005, Indonesia sudah mengenal dengan adanya Bonus demografi atau window of opportunity, dimana usia non-produktif menurun dan meledaknya penduduk usia kerja. Kondisi ini telah terbukti dengan maksimal dalam mengubah perekonomian negaranya menjadi maju, contohnya adalah Tiongkok yang berhasil menggerakkan dan menciptakan industri-industri rumah tangga dengan menyerap banyak tenaga kerja lokal di negaranya.

Sebelum kita melihat peluangnya bagi Perekonomian Indonesia, kita juga harus mengenal apa itu Bonus Demografi? Menurut Wikipedia Bonus Demografi (Demographic Dividend), berdasarkan istilah dari Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Population Fund (UNFPA)), adalah potensi pertumbuhan ekonomi yang tercipta akibat perubahan struktur umur penduduk, dimana proporsi usia kerja (15-65 tahun) lebih besar daripada proporsi bukan usia kerja (0-14 tahun dan >65 tahun). Perubahan era ini diprediksi akan terjadi di Indonesia pada tahun 2028-2030 yang menjadi tahun puncaknya, dimana penduduk usia kerja (usia produktif) akan mencapai 70 persen. Dengan meningkatnya jumlah usia produktif tersebut maka pemerintah dan dunia usaha harus mampu menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas dan kuantitas Pendidikan dengan pelatihan (Balai Latihan Kerja) yang berkualitas dari sisi hard skill dan kebijakan ekonomi untuk mewujudkan fleksibilitas tenaga kerja.

Menurut laporan United Nations Development Programme (UNDP), peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia masih berada di urutan ke-113 dari 188 negara di dunia. Sementara jumlah angkatan kerja di Indonesia kini sudah mencapai 138,22 juta orang sehingga momentum ini akan menjadi sebuah peluang strategis untuk melakukan percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dengan menyediakan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, produktif, berkarakter dan berdaya saing dalam meningkatkan kualitas standar hidupnya. Penguasaan keterampilan teknis dan soft skill (kreativitas, inovasi dan optimis) juga menjadi poin yang dibutuhkan dalam pasar kerja di era digital ini untuk siap bersaing dengan persaingan atau kompetisi yang tinggi.

Sebaliknya, bonus demografi bisa menjadi boomerang jika tenaga kerja tidak terserap dengan baik sehingga menimbulkan ledakan pengangguran di seluruh daerah. Risiko buruk yang terjadi adalah kualitas tenaga kerja yang tidak seimbang sehingga menurunkan pendapatan ketika perkembangan teknologi sangat pesat dan meningkatkannya tingkat kriminalitas karena jumlah kemiskinan yang tinggi. Risiko ini bisa dihindari dengan membangun infrastruktur di seluruh daerah yang memadai tidak hanya di kota-kota besar saja untuk penyerapan tenaga kerja. Pemerataan sarana-sarana pendidikan dan kesehatan serta pemerataan penduduk juga menjadi poin penting bagi daerah-daerah kecil atau pedalaman untuk akses dalam membeli barang komoditas yang bisa meningkatkan permintaan dan penawaran di desa tersebut. Kegiatan ini bisa menaikkan produk domestik bruto (PDB) karena adanya pertambahan perkapita secara agregrat, meningkatnya jumlah tabungan masyarakat dan investasi agar masyarakat bisa membuka usaha sehingga lapangan kerja pun terbuka luas serta meningkatnya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat atas pembangunan ekonomi yang baik sehingga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

Pemerintah pun sekarang telah merancang berbagai instrumen kebijakan baik dari fiskal maupun moneter agar ekonomi tetap stabil dikarenakan adanya wabah yang tidak direncanakan di bidang kesehatan yaitu COVID-19. Salah satunya adalah menarik investor asing dari Negara maju untuk menginvestasikannya dananya untuk pembangunan daerah-daerah dari berbagai sektor (pertanian, perkebunan, pariwisata, pertambangan, kehutanan, pendidikan dll). Peningkatan investasi ini diharapkan bisa membangkitkan semangat kewirausahaan masyarakat Indonesia untuk menjadi pengusaha. Karena sektor UMKM di Indonesia sangat banyak dan menjadi pilar penting bagi pembangunan nasional dengan merubah prioritas pemanfaatan dana desa menjadi pelatihan-pelatihan kewirausahaan atau sebagai bantuan modal untuk membesarkan usaha-usaha kecil yang berbasis rumah tangga seperti dalam memanfaatkan bonus demografi. Sehingga peningkatan output dari kapital stok melalui sisi investasi dan tabungan dan peningkatan penawaran tenaga kerja akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Bonus_demografi. Diakses pada tanggal 06 Januari 2021

https://www.pajak.go.id/id/artikel/menjawab-tantangan-bonus-demografi. Diakses pada tanggal 06 Januari 2021

https://maucash.id/https-maucash-id-bonus-demografi-indonesia-2030. Diakses pada tanggal 06 Januari 2021

 

Jumat, 19 Februari 2016

curcol gak jelas

akhirnya setelah penantian selama 4 tahun yang direncanakan untuk lulus dari sarjana ekonomi. aku bisa menyelesaikannya dalam 3.5 tahu. tapi jika dilihat apakah itu berpengaruh terhadap diriku sendiri? jawaban iya. karena aku telah melewatkan satu tahun untuk mencapainya. jadi bisa dibilang aku menyelesaikan kuliah ini ditambah berhenti setahun menjadi 4.5 tahun. menyesal? tidak. aku bersyukur masih memiliki prestasi yang seperti ini. aku bukan orang yang pintar atau cerdas. aku hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik. memiliki keluarga, sahabat dan teman yang selalu mendukungku. aku sempat berfikir, lulus dari sarjana ini, apa yang bisa aku lakukan selanjutnya? setiap orang pasti memilih kerja, tpi aku masih memiliki mimpi yang ingin dicapai, "ingin kuliah di luar negeri" boleh kan orang seperti saya ini bermimpi? saya tidak punya hal yang bisa dibanggakan, bahasa inggris tidak menguasai, tidak berani mengungkapkan dengan tegas apa yang memang saya butuhkan. tapi saya yakin semua itu pasti berhasil. bolehkan saya untuk mencatat mimpi saya disini. "melanjutkan s2 saya di luar negeri dan bisa membanggkan orang tua dan negeri:.
sekian..

Kamis, 26 November 2015

aspek teknik/operasional dan teknologi



B A B I  P E N D A H U L U A N

1.1  Latar Belakang
Setelah melakukan analisis terhadap aspek pasar dan pemasaran, dan suatu bisnis dinyatakan layak, maka tahap berikutnya adalah melakukan analisis teknik atau operasional dan teknologi. Artinya, apakah dari segi pembangunan proyek dan segi implementasi operasional bisnis secara teknis dapat dilaksanakan, demikian juga dengan aspek teknologi yang digunakan. Penilaian terhadap aspek ini penting dilaksanakan sebelum bisnis dijalankan, karena akan sangat terkait dengan teknik/operasional, sehingga akan berakibat fatal di kemudian hari jika tidak dilakukan analisis.
Terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan analisis dalam aspek ini diantaranya adalah penentuan lokasi, penentuan lokasi produksi, penentuan tata letak (layout), penyusunan peralatan pabrik dan proses produksinya termasuk pemilihan teknologi, metode persediaan, dan sistem informasi manajemen. Kelengkapan kajian aspek teknik/operasional sangat tergantung pada jenis usaha yang dijalankan. Dengan demikian analisis ini dilakukan untuk menilai kesiapan perusahaan dalam menjalankan usahanya dengan menilai ketetapan lokasi, luas produksi dan tata letak (layout) serta kesiapan mesin-mesin dan teknologi, metode persediaan serta sistem informasi manajemen yang akan digunakan.
Menurut Schroeder (1994), secara umum istilah operasi mengacu pada kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa dan menjadi fungsi inti dari setiap perusahaan. Dalam praktiknya, fungsi operasi diperlukan sama dengan fungsi lainnya, seperti fungsi keuangan dan pemasaran. Dalam sistem operasi terdapat masukan (input) yang berupa energi, material, tenaga kerja, modal dan informasi. Semua masukan ini diubah menjadi barang dan/atau jasa melalui teknologi proses, yaitu metode tertentu yang digunakan untuk melakukan transformasi. Perubahan pada teknologi akan mengubah cara suatu masukan (input) digunakan terhadap lainnya, dan tentu dapat pula mengubah produk (output) yang dihasilkan.
Jenis masukan yang digunakan dalam suatu perusahaan/industri dengan perusahaan/industri yang lain tentu berbeda. Operasi pada industri sepeda motor memerlukan masukan berupa modal dan energi untuk mesin-mesinnya, fasilitas dan peralatan, tenaga kerja untuk mengoperasikan dan memelihara peralatan serta material yang akan dikonversikan dari bahan baku menjadi bahan jadi. Sedangkan operasi pada industri jasa kapal pesiar memerlukan masukan berupa modal untuk penyediaan kapal pesiar dan fasilitasnya, tenaga kerja yang sangat terlatih (untuk nahkoda kapal dan tenaga pemeliharaan kapal), tenaga kerja biasa, dan sejumlah besar energi lainnya.
Sistem operasi yang disandarkan pada kendali syari’ah akan memastikan berjalannya proses transformasi (konversi) yang amanah. Di samping jaminan halal atas segala masukan yang digunakan serta semua keluaran yang dihasilkan.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa saja analisis yang digunakan dalam aspek teknik/operasional dan teknologi dan pengertiannya?
2.      Dan risiko apa yang dihadapi dalam aspek teknik/operasional dan teknologi?

1.3  Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui analisis yang digunakan dalam aspek teknik/operasional dan teknologi dan pengertiannya.
2.      Untuk mengetahui risiko yang dihadapi dalam aspek teknik/operasional dan teknologi.



B A B II  P E M B A H A S A N

2.1  PENENTUAN LOKASI
Penentuan lokasi sangat penting karena apabila perusahaan salah dalam menentukan lokasi yang dipilih akan mengakibatkan terjadinya peningkatan biaya yang harus dikeluarkan. Harga produk yang akan dipasarkan nantinya juga sangat tergantung pada lokasi pabrik yang dipilih, karena harga pasar akan terpengaruh dengan jarak lokasi pabrik dengan pasar. Selanjutnya akan sangat terkait dengan kemampuan bersaing barang yang diproduksi yang nantinya akan berpengaruh terhadap laba perusahaan.
Penentuan lokasi yang tepat akan memberikan keuntungan bagi perusahaan, baik dari sisi finansial maupun non financial, misalnya: dapat memberikan pelayanan kepada konsumen dengan lebih memuaskan, kemudahan untuk memperoleh tenaga kerja yang diinginkan baik secara kuantitas maupun kualifikasinya, memudahkan dalam memperoleh bahan baku atau bahan lainnya dalam jumlah yang diinginkan dalam jangka waktu yang sudah diperhitungan, kemudahan dalam memperluas lokasi usaha, karena sejak awal sudah dipertimbangkan kebutuhan lahan yang dibutuhkan, mempunyai proyek nilai ekonomis yang tinggi di masa yang akan datang, meminimalisasi konflik terutama dengan masyarakat setempat, serta adanya dukungan pemerintah terhadap usaha yang akan dijalankan.
Untuk memilih lokasi tergantung dari jenis usaha yang dijalankan. Untuk mempertimbangkan lokasi yang dipilih harus disesuaikan dengan keperluan usaha, misalnya untuk lokasi pabrik, lokasi kantor pusat, lokasi kantor pemasaran, lokasi gudang, dan lainnya. Sebenarnya terdapat beberapa pertimbangan yang harus diketahui dalam penentuan lokasi, namun pada garis besarnya terdapat 2 pendekatan sebagai berikut:
1.      Pendekatan berdasarkan kedekatan dengan bahan baku (raw material approximity approach).
Pendekatan penentuan lokasi ini didasarkan kepada bahwa sebaiknya lokasi perusahaan ditentukan di daerah bahan baku. Dengan demikian biaya angkut bahan baku dari sumbernya ke pabrik seefisien mungkin. Jadi, pertimbangannya adalah biaya angkut bahan baku yang semurah mungkin. Beberapa contoh pendekatan ini adalah sebagai berikut:
a.       Perusahaan semen sebaiknya ditempatkan di daerah gunung kapur/bahan semen. Itulah sebabnya mengapa pabrik semen didirikan di daerah Gresik dan Tuban karena daerah tersebut merupakan daerah gunung kapur.
b.      Perusahaan pengolahan minyak harus terletak di kawasan yang terdapat tambang minyak, misalnya daerah Cepu, Jawa Tengah.
c.       Perusahaan air minum kemasan sebaiknya ditempatkan pada daerah yang banyak terdapat sumber air yang memadahi, misalnya di daerah Tretes Pandaan Pasuruan.
2.      Pendekatan berdasarkan kedekatan dengan daerah pemasaran (Market Approximity Approach).
Berdasarkan pendekatan ini, maka perusahaan harus ditempatkan di daerah pemasaran. Pertimbangannya adalah efesiensi pengangkutan hasil produksi dari pabrik ke daerah pemasaran.
Beberapa contoh pendekatan ini di antaranya adalah:
a.       Perusahaan atau pabrik televisi/radio/video dan kaset recorder  hendaknya ditempatkan di daerah pemasaran. Misalnya, beberapa perusahaan perakitan TV, radio, komputer umumnya berada di kota-kota besar bukan di daerah pedalaman.
b.      Perusahaan obat-obatan banyak terletak di daerah perkotaan.
c.       Perusahaan konveksi banyak di daerah pemasaran lainnya.
Meskipun secara umum penentuan lokasi bisnis berdasarkan kedua pendekatan tersebut, namun terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi yang nantinya akan dianalisis untuk mencapai keputusan akhir di mana lokasi akan dipilih. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1.      Faktor primer
Pertimbangan utama faktor primer dalam menentukan lokasi pabrik antara lain:
a.       Kedekatan dengan pasar sasaran atau konsumen potensial di mana tempat produk akan dijual.
b.      Kedekatan dengan sumber (ketersediaan) bahan baku utama.
c.       Ketersediaan tenaga kerja, baik dari sisi kuantitas maupun kualifikasi yang dibutuhkan.
d.      Ketesediaan sarana dan prasarana transportasi yang memadahi yang dapat memperlancar pengadaan bahan baku dan memasarkan hasil produksi, misalnya jalan raya, jembatan, pelabuhan laut, bandar udara, kereta api dan lainnya.
e.       Ketersediaan sarana listrik, sumber air, telekomunikasi untuk memperlancar kegiatan produksi agar tidak terganggu.
f.       Sikap masyarakat setempat yang dapat mempengaruhi aktivitas usaha baik positif maupun negatif.
2.      Faktor sekunder
Beberapa faktor sekunder yang harus dipertimbangkan dalam menentukan lokasi pabrik adalah:
a.       Kondisi iklim, kelembapan, curah hujan dan tanah, misalnya untuk jenis usaha di bidang agrobisnis harus dapat memilih iklim yang sejuk dan kondisi tanah yang subur.
b.      Strategi kebijakan pemerintah terutama pemerintah daerah setempat yang dapat mendukung atau menghambat usaha yang akan dijalankan serta kebijakan arah pembangunan yang akan dijalankan. Misalnya, masalah peraturan perpajakan, peraturan ketenagakerjaan, peraturan ijin usaha, insentif, dan lainnya.
c.       Kemungkinan perluasan pengembangan perusahaan dan rencana masa depan perusahaan.
d.      Sikap masyarakat setempat yang dapat mempengaruhi aktivitas usaha baik positif maupun negatif, misalnya adat istiadat, budaya, agama, keamanan, dan lainnya.
e.       Biaya untuk investasi dan eksplorasi misalnya pengadaan tanah dan pembangunan gedung.
METODE PENILAIAN PEMILIHAN LOKASI
1.      Metode Penilaian Kualitatif Subyektif
Dalam metode semua faktor yang berpengaruh dalam pemilihan lokasi proyek akan diberikan penilaian sesuasi dengan situasi dan kondisi masing-masing alternatif daerah yang akan dipilih. Faktor-faktor tersebut dinilai dengan kategori “Skala Likert” dan diberikan skor. Misal: kategori sangat baik (A), baik (B), cukup (C), kurang sekali (E), masing-masing diberi skor 5,4,3,2, dan 1.
Berdasarkan metode penilaian kualitatif subyektif maka lokasi yang mempunyai skor tertinggi yang dipilih yaitu Kota Malang dengan skor 34.
Disamping dengan penilaian diatas, terdapat cara lain yang bisa digunakan dalam metode penilaian kualitatif subyektif, yaitu dengan cara memberikan pembobotan dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
Setelah dilakukan pembobotan untuk variabel iklim dan kondisi tanah dan kebijakan pemerintah ranking tertinggi yang dipilih yaitu Kota Malang.
2.      Metode Perbandingan Biaya
Metode ini membedakan biaya dalam biaya tetap dan biaya variabel untuk membantu pemilihan alternative lokasi. Dengan metode ini akan dapat disusun hubungan antara masing-masing alternative lokasi antar biaya yang ditanggung oleh masing-masing lokasi tersebut dengan volume produksi yang diinginkan. Metode in selain mempertimbangkan biaya tetap dan biaya variabel, juga mempertimbangkan kapasitas produk yang akan dihasilkan, yang nantinya akan sangat menentukan hasil akhir dari penentuan lokasi yang dipilih.
Dari hasil analisis dengan menggunakan perbandingan biaya, maka yang dipilih adalah lokasi dengan biaya termurah, untuk kapasitas produksi 4000 unit lokasi yang dipilih adalah Gresik, untuk kapasitas 5000 unit pilihannya adalah sama untuk keempat kota tersebut, sedangkan untuk kapasitas 6000 unit lokasi dengan biaya termurah adalah Malang.
3.      Metode Transportasi
Dengan teknik “trial and error” dan menggunakan aturan tertentu akan dapat mengetahui pada lokasi mana tercapai minimalisasi biaya. Metode ini terutama digunkaan bila peruashaan telah memiliki beberapa pabrik dan beberapa gudang yang dimaksudkan untuk menambah kapasitas satu pabriknya, atau relokasi pelayanan dari setiap pabrik atau penambahan pabrik/gudang baru.

2.2  PENENTUAN LUAS PRODUKSI/SKALA OPERASI
Skala operasi/luas produksi adalah kuantitas unit produk yang seharusnya dihasilkan pada satu periode tertentu dalam rangka mencapai optimalisasi profit. Penentuan skala produksi berkaitan dengan berapa jumlah produksi yang dihasilkan dalam waktu tertentu dengan mempertimbangkan kapasitas produksi dan peralatan yang dimiliki serta biaya yang paling efisisen. Skala operasi dapat dilihat dari segi ekonomis, yaitu yang dilihat adalah berapa jumlah produk yang dihasilkan dalam waktu tertentu dengan biaya yang paling efisien dan segi teknis yang diliihat adalah jumlah produk yang dihasilkan atas dasar kemampuan mesin dan peralatan serta persyaratan teknis lainnya.
Dalam industri manufaktur, terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan skala operasi, antara lain:
a.       Kemungkinan perkembangan pangsa pasar yang dapat diraih.
b.      Kapasitas mesin serta peralatan yang dimiliki.
c.       Kuantitas-kualitas SDM dalam proses produksi.
d.      Kemampuan keuangan perusahaan.
e.       Kemungkinan adanya perubahan teknologi produksi di masa yang akan datang.
f.       Peraturan pemerintah dan ketentuan teknis lainnya juga berperan dalam perencanaan skala operasi.
METODE UNTUK MENENTUKAN LUAS PRODUKSI/SKALA OPERASI
Beberapa model/alat untuk membantu menganalisis luas produksi antara lain:
1.      Metode Break Event Point (BEP)
Formula:
Q =                 keterangan:
                                          Q    : Quantity
                                          FC  : Fixed Cost
                                          VC : Variabel Cost
                                          S     : Sales
Contoh: PT. Bintang Kejora ingin merencanakan luas produksi untuk produksi perdananya, dengan data sebagai berikut:
·         Biaya tetap                                    Rp. 800.000.000,00
·         Biaya variabel per unit                              40.000
·         Harga jual per unit                                    200.000
Q =  = 5000 unit

Dari perhitungan di atas maka PT. Bintang Kejora akan memperoleh keuntungan dengan memproduksi 5000 unit ke atas.
2.      Metode Marginal Cost (MC) dan Marginal Revenue (MR)
Pada pendekatan ini luas produksi optimal tercapai pada saat maginal cost (MC) sama dengan marginal revenue (MR).
3.      Metode Linear Progamming
Metode grafik dan metode simple.

2.3  PENENTUAN TATA LETAK (LAYOUT)
Tata letak (layout) adalah suatu proses dalam menentukan bentuk dan penempatan fasilitas yang dapat menentukan efisiensi produksi atau operasi. Layout dirancang berkenaan dengan produk, proses, sumber daya manusia dan lokasi sehingga efisiensi operasi dapat tercapai. Tujuan penentuan layout adalah optimalisasi pengaturan fasilitas-fasilitas operasi sehingga nilai yang diciptakan oleh sistem produksi menjadi optimal.
Keuntungan yang diperoleh dengan adanya penentuan layout:
1.      Memberikan ruang gerak yang memadahi untuk beraktivitas dan pemeliharaan.
2.      Efisiensi pemakaian ruangan.
3.      Biaya investasi dan produksi bisa dikurangi.
4.      Kelancaran aliran material.
5.      Efisiensi biaya pengangkutan material dan barang jadi.
6.      Kebutuhan persediaan yang rendah.
7.      Adanya kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja yang lebih baik.
MACAM-MACAM LAYOUT  PABRIK (Subargo, 2000)
1.      Layout  Garis
Layout garis juga disebut sebagai layout produk. artinya pengaturan letak mesin-mesin atau fasilitas produksi dalam suatu pabrik yang berdasarkan atas urut-uratan proses produksi dalam membuat suatu barang. Barang yang dikerjakan setiap hari selalu sama dan arus barang yang dikerjakan setiap hari juga selalu sama seolah-olah menyerupai garis sehingga dikatakan sebagai layout produk.
2.      Layout Fungsional
Layout fungsional ini juga sering disebut dengan layout proses, yaitu pengaturan tata letak fasilitas produksi di dalam pabrik berdasarkan atas fungi bekerjanya setiap mesin atau fasilitas produksi yang ada. Mesin atau fasilitas yang mempunyai kegunaan yang sama dikelompokkan dan diletakkan pada ruangan atau tempat yang sama. Layout ini biasanya digunakan untuk membuat barang yang bermacam-macam. Contohnya dari layout fungsional ini adalah pabrik yang mengerjakan berbagai macam barang-barang dari besi.
3.      Layout Kelompok
Layout  kelompok adalah suatu pengaturan letak fasilitas suatu pabrik berdasarkan atas kelompok barang yang dikerjakan. Biasanya pabrik yang menggunakan layout kelompok memeiliki produk yang bermacam-macam, tetapi garis besar urutan prosesnya dapat dibagi dalam beberapa kelompok yang sama. Untuk setiap kelompok produk dibuatkan layout tersendiri.
Contoh penggunaan layout ini adalah pada perusahaan pemroses kulit. Perusahaan ini menghasilkan sepatu, sandal, sepatu sandal baik untuk pria maupun wanita, berbagai dompet, tas, dan berbagai macam ikat pinggang. Proses untuk mengerjakan setiap barang tidak sama, tetapi pada dasarnya produk dapat dikelompokkan dalam beberapa marga atau kelompok produk yang garis besar urutan proses pembuatannya hampir sama, meskipun cara pengerjaan setiap barang secara rinci berbeda-beda.
Misalnya pembuatan kelompok sepatu mesti melalui bagian sol, bagian atas, bagian perakitan, dan finishing atau penyelesaian. Hanya cara pembuatan sol setiap macam dan model sepatu agak lain, meskipun garis besarnya sama. Demikian juga pembuatan bagian atas dan perakitannya.

4.      Layout dengan Posisi Tetap
Layout dengan posisi tetap adalah pengaturan fasilitas produksi dalam membuat barang dengan letak barang yang tetap atau tidak dipindah-pindah. Contoh, layout pembuatan jembatan, layout  pembangunan gedung, layout pembuatan jalan, dan layout penghijauan.
Kriteria untuk menilai layout pabrik:
a.       Adanya konsistensi dengan teknologi.
b.      Adanya arus produk dalam proses yang lancar dari satu proses ke proses yang lain.
c.       Penggunaan ruangan optimal.
d.      Terdapat kemungkinan untuk dengan mudah melakukan penyesuasian maupun ekspansi.
e.       Meminimalisasi biaya produksi dan memberikan jaminan yang cukup untuk keselamatan tenaga kerja.
Untuk memperoleh layout yang baik maka perusahaan perlu menentukan hal-hal sebagai berikut:
1.      Perusahaan Manufaktur
a.       Sifat produk yang dibuat dapat menentukan layout yang akan dibuat. Misalnya jika produk yang dibuat padat akan berbeda dengan produk yang bersifat cair atau gas. Jika sifat produk cair atau gas proses pengangkutannya dapat menggunakan pipa, berarti menghemat tempat. Jika produknya besar dan sulit dipindahkan maka digunakan layout dengan posisi tetap.
b.      Jenis proses produksi yang digunakan. Layout garis biasanya digunakan pada pabrik yang memiliki proses produksi continous atau memiliki line flow, sedangkan layout fungsional biasanya digunakan pada proses produksi intermittent.
c.       Jenis barang serta volume produksi barang yang dihasilkan. Apabila perusahaan menghasilkan bermacam-macam barang produk yang jumlah setiap jenis hanya sedikit, biasanya menggunakan layout fungsional. Akan tetapi jika produknya selalu sama setiap jenis banyak, sebaiknya menggunakan layout garis.
d.      Nilai investasi. Penentuan layout harus disesuaikan dengan modal yang tersedia, karena untuk membuat layout memerlukan investasi yang cukup besar.
e.       Keluwesan atau fleksibilitas. Fleksibel adalah jika terjadi perubahan macam barang yang dihasilkan atau terjadi penambahan kapasitas pabrik/penambahan mesin, maka letak mesin dan fasilitas-fasilitas pabrik mudah disesuaikan.
f.       Pengangkutan barang. Untuk layout agar dapat diusahakan dengan menggunakan conveyor  karena jalan yang dilalui barang selalu sama sehingga biaya pengangkutannya murah. Dalam layout fungsional biasanya selalu diusahakan mendekatkan tempat-tempat yang saling berhubungan atau banyak dilakukan pengangkutan barang.
g.      Aliran barang. Mesin-mesin sebaiknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga aliran barang yang dikerjakan tidak saling mengganggu.
h.      Efektivitas penggunaan ruangan. Penempatan mesin-mesin sebaiknya sedemikian rupa sehingga ruangan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dan dapat menghindari pemborosan ruangan. Jangan sampai ada ruangan yang menganggur, jangan pula meletakkan mesin terlalu jauh sehingga menghemat ruangan dan mengurangi pengangkutan dan peletakan mesin jangan terlalu rapat karena akan saling mengganggu.
i.        Lingkungan dan keselamatan kerja. Layout harus memprtimbangkan keselamatan kerja dan lingkungan kerja, jangan sampai keselamatan mesin membahayakan karyawan. Jadi mesin-mesin yang membahayakan sebaiknya diletakkan pada tempat yang jarang dilewati atau diberi pengaman yang cukup.
j.        Pemeliharaan. Peletakan mesin-mesin harus memungkinkan pelaksanaan pemeliharaan dengan mudah. Misalnya, selain untuk tempat mesin disediakan tempat pemeliharaan.
k.      Letak kamar kecil jangan terlalu jauh dari ruang kerja, sehingga tidak terlalu banyak waktu yang terbuang untuk perjalanan ke kamar kecil.
l.        Pengawasan. Sebaiknya mesin atau fasilitas produksi yang lain diletakkan sedemikian rupa sehingga memudahkan pengawasan.
2.      Kantor
a.       Nilai investasi. Penentuan layout harus disediakan dengan modal yang tersedia, karena untuk membuat layout memerlukan investasi yang cukup besar.
b.      Komunikasi. Peletakan fasilitas-fasilitas kantor hendaknya memudahkan untuk melakukan komunikasi.
c.       Fleksibilitas layout kantor kadang-kadang sangat diperlukan untuk kemudahan penggunaan dan menghindari kejenuhan.
d.      Struktur organisasi juga menentukan layout kantor karena dalam organisasi yang berbeda terdapat perbedaan jumlah macam dan jumlah bagian, seksi dan unit yang ada.
e.       Jenis lembaga juga menentukan layout yang digunakan. Misalnya, layout bank dengan di pemda berbeda. Pada bank antara karyawan satu dengan yang lainnya biasanya dipisahkan dengan pembatas kaca karena bank memerlukan ketelitian, pengawasn serta keamanan yang lebih ketat dibandingkan di pemda. Sedangkan di pemda biasanya bagian satu dengan lainnya terpisah.
3.      Gudang
a.       Nilai investasi. Penentuan layout harus disediakan dengan modal yang tersedia, karena untuk membuat layout memerlukan investasi yang cukup besar.
b.      Bongkar muat barang. Penempatan barang di dalam gudang harus membantu kegiatan bongkar muat barang. Jangan meletakkan barang di sembarang tempat agar tidak menggangu kegiatan bongkar muat barang yang lain.
c.       Fleksibilitas. Penempatan barang di gudang harus diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan pengaturan kembali jika jumlah barang yang disimpan ditambah atau berubah macamnya. Misalnya, barang-barang yang keras dan kuat sebaiknya ditaruh di bagian bawah supaya dapat ditumpangi barang-barang yang kurang kuat.
d.      Lingkungan kerja. Agar tidak menganggu lingkungan kerja, penempatan barang dalam gudang harus terencana dengan baik. Misalnya, barang-barang yang beracun dan berbau menyengat dijauhkan dari kesibukan atau kantor gudang.
e.       Keselamatan barang yang disimpan juga harus dilindungi. Misalnya, barang-barang yang mudah kabur sebaiknya ditaruh di tempat aman yang jauh dari tiupan angin. Barang-barang yang jika berdekatan dapat menimbulkan reaksi kimia atau dapat menurunkan kualitas, sebaiknya dijauhkan.
4.      Toko
a.       Nilai investasi. Layout yang baik kadang-kadang harus didukung dengan dana yang banyak karena untuk tambahan rak, dekorasi dan sarana-sarana pengamanan.
b.      Daya tarik untuk pembeli. Took harus menarik bagi para pembeli sehingga layout harus diusahakan sedemikian rupa agar pembeli merasa senang dan nyaman. Misalnya pengaturan harus memudahkan pembeli dalam mencari barang yang dibutuhkan, peletakan beberapa macam barang dagangan yang biasnya dibeli bersamaan sebaiknya berdekatan supaya pembeli tidak usah modar-mandir, pengaturan barang dagangan menarik sehingga enak dipandang, penempatan kipas angin atau AC harus tepat agar pembeli tidak merasa kepanasan dalam toko, dan lainnya.
5.      Tata Letak (Layout) Bagi Industri Jasa
a.       Pertimbangan spesial. Aspek-aspek seperti warna, tekstur proporsi, simetri dan lainnya hendaknya dipertimbangkan, dikombinasikan, dan dikembangkan untuk memancing respons intelektual, maupun emosional dari para pemakai atau orang yang melihatnya.
b.      Perencanaan ruangan. Unsur ini mencakup interior dan arsitektur, seperti penempatan perabotan dan perlengkapannya dalam ruangan, desain aliran sirkulasi, dan lainnya.
c.       Perlengkapan/perabotan. Unsur ini memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai sesuatu yang menunjukkan status pemilik atau penggunanya.
d.      Tata cahaya. Unsur ini selain berfungsi sebagai penerang ruangan, hendaknya juga diperhatikan aktivitas-aktivitas apa saja yang dilakukan di ruagan tersebut agar sesuai dengan persepsi penyedia jasa dan pelanggan mereka.
e.       Warna. Pemilihan warna dalam ruangan menjadi penting, karena dapat membangkitkan perasaan dan emosi bagi yang melihatnya.
f.       Pesan-pesan yang disampaikan secara grafis. Aspek yang penting dan saling terkait dalam unsur ini adalah penampilan visual, penempatan, pemilihan bentuk fisik, pemilihan warna, pencahayaan, dan pemilihan bentuk perwajahan lambing atau tanda yang digunakan untuk maksud tertentu (misalnya, penunjuk arah/tempat, keterangan/informasi, dan sebagainya).

2.4  PEMILIHAN TEKNOLOGI
Pemilihan teknologi yang akan digunakan dalam proses produksi baik untuk barang atau jasa hendaknya disesuaikan dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang. Dengan demikian, kemajuan teknologi diharapkan dapat menjadikan proses produksi akan menjadi lebih efisien yang sekaligus dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi. Teknologi yang digunakan selayaknya harus disesuaikan dengan lingkungan internal maupun eksternal perusahaan.
Tedapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar teknologi yang digunakan sesaui dengan derajat mekanisasi yang diinginkan dan manfaat ekonomi yang diharapkan, antara lain:
1.      Kesesuaian teknologi dengan bahan mentah yang digunakan.
2.      Keberhasilan pemakaian teknologi di tempat lain.
3.      Kemampuan sumber daya manusia dalam menerapkan/mengoperasikan teknologi.
4.      Kemampuan mengantisipasi perkembangan teknologi lanjutan.
5.      Besarnya biaya investasi serta biaya pemeliharaan.
6.      Peraturan pemerintah terkait dengan kebijakan ketenagakerjaan.
Kriteria Pemilihan Mesin dan Peralatan
Beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan untuk memilih mesin dan peralatannya antara lain:
1.      Tersedianya pemasok. Untuk pengadaan mesin dan peralatan sebaiknya memilih yang sudah banya terdaftar di pasaran, artinya banyak pemasok yang menjual mesin dan peralatan tersebut. Disamping itu perlunya garansi dari mesin dan peralatan tersebut.
2.      Tersedianya suku cadang. Pengadaan mesin dan peralatan diusahakan harus tersedia suku cadangnya, hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan sewaktu-waktu memerlukan perbaikan dan penggantian komponen akibat adanya kerusakan.
3.      Kemampuan/kapasitas produksi. Kapasitas mesin dan peralatan hendaknya menyesuaikan dengan rencana penentuan skala produksi/operasi. Hal ini penting dilakukan agar tidak terjadi “idle capacity” (kapasitas yang menganggur) yang dapat mengakibatkan beban biaya tetap yang tinggi dan tidak terjadi “full capacity” (kapasitas penuh) yang dapat mempercepat kerusakan mesin dan peralatan.
4.      Kualitas dan taksiran umur kegunaan. Pemilihan mesin dan peralatan diusahakan harus sesuai dengan kualitas yang disyaratkan agar tidak mudah rusak dan sering melakukan pergantian. Umur ekonomis mesin dan peralatan tersebut juga harus dipertimbangkan karena hal ini terkait dengan keberadaan proyek bisnis yang dijalankan.
2.5  MANAJEMEN PERSEDIAAN
Untuk mengantisipasi permintaan konsumen yang meningkat secara signifikan, atau untuk mensuplai kekurangan bahan baku, maka diperlukan adanya persediaan barang yang memadahi. Ketidaklancaran persediaan barang akan mengurangi jumlah barang jadi yang dapat diproduksi. Jumlah persediaan barang hendaknya sesuai dengan kebutuhan, yakni jangan terlalu banyak dan terlalu sedikit. Untuk mengendalikan persediaan diperlukan adanya manajemen persediaan yang baik. Tujuan utama manajemen persediaan adalah mengendalikan persediaan agar dapat melayani kebutuhan persediaan akan bahan mentah/bahan jadi dari waktu ke waktu serta dapat meminimalkan total biaya operasi perusahaan.
Beberapa hal mengenai manajemen persediaan yang perlu dikaji dalam studi kelayakan bisnis antara lain:
1.      Penentuan jumlah order
Ada beberapa model yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah order setiap kali pemesanan. Salah satu model yang cukup sederhana adalah economic order quantity (EOQ), yaitu jumlah pemesanan yang paling ekonomis. Jumlah pembelian barang, misalnya bahan baku atau bahan pembantu, yang dapat meminimumkan jumlah biaya pemeliharaan barang di gudang dan biaya pemesanan setiap tahun. Model ini sangat mudah dan sederhana, namun berlakunya memerlukan asumsi-asumsi sebagai berikut:
a.       Jumlah kebutuhan dalam setahun dapat diperkirakan dan kebutuhan barang sepanjang tahun relatif stabil.
b.      Hanya ada dua macam biaya yang relevan, yaitu biaya pemesanan dan biaya pemeliharaan barang.
c.       Biaya pemesanan untuk setiap kali pemesanan besarnya selalu sama, tidak terpengaruh oleh jumlah yang dipesan.
d.      Biaya pemeliharaan barang setiap unit setiap tahun selalu sama. Dengan kata lain biaya pemeliharaan barang ini bersifat variabel, tergantung jumlah barang yang disimpan dan lama waktu penimpanan.
e.       Usaha barang relatif lama, tidak cepat aus, busuk atau rusak.
f.       Harga barang setiap unit selalu sama (stabil)
g.      Tidak ada kendala atau batasan mengenai jumlah barang yang dapat dipesan.
2.      Safety stock
Safety stock adalah persediaan barang minimum untuk menghindari terjadinya kekurangan barang. Terjadinya kekurangan barang disebabkan antara lain karena kebutuhan barang selama pemesanan melebihi rata-rata kebutuhan barang, yang dapat terjadi karena kebutuhan setiap harinya selalu banyak atau karena jangka waktu pemesanannya terlalu panjang dibanding dengan kebiasaan. Kalau kita memiliki safety stock terlalu banyak akibatnya perusahaan akan menanggung biaya penyimpanan yang terlalu mahal, teapi kalau safety stock-nya terlalu sedikit maka perusahaan akan menanggung biaya atau kerugian karena kekurangan barang. Oleh karena itu perusahaan harus biasa menentukan besarnya safety stock ini secara tepat. Terdapat beberapa modal yang dapat digunakan dalam menentukan safety stock ini diantaranya adalah model dengan expected value dan model dengan kurva normal.
3.      Inventory system
Inventory system adalah suatu cara untuk menentukan bagaimana dan kapan suatu pembelian dilakukan untuk mengisi persediaan barang. Pada dasarnya ada dua macam, yaitu:
a.       Sistem recorder point, yaitu pembelian dilakukan pada saat jumlah barang yang ada di dalam gudang tinggal sejumlah reorder point (titik pemesanan kembali) saja. Reorder point sama dengan jumlah barang yang dibutuhkan selama jangka waktu pemesanan barang (lead time) sampai barang datang.
b.      Sistem periodik, yaitu pembelian barang dilakukan secara periodik, setiap saat tertentu (seminggu sekali, sebulan sekali, dan lain-lain) dilihat berapa jumlah barang yang masih ada di gudang. Bedasarkan jumlah itu dihitung berapa jumlah yang harus dipesan agar jumlah persediaan mencapai jumlah maksimum persediaan yang telah ditetapkan.
4.      Material Requirement Planning (MRP)
Material requirement planning merupakan model yang lebih proaktif dibandingkan dengan EOQ yang bersifar reaktif. Pembelian barang yang dibutuhkan direncanakan sesuai dengan kebutuhan untuk membuat barang. Ada beberapa keuntungan digunakannya MRP, antara lain:
a.       Mengurangi kesalahan dalam memperkirakan kebutuhan barang, karena kebutuhan bang didasakan atas rencana jumlah produksi.
b.      Menyajikan informasi untuk perencanan kapasitas pabrik.
c.       Akan selalu memperbaiki jumlah persediaan dan jumlah pemesanan material.

2.6  SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
 Secara umum manajemen operasi meliputi kegiatan yang berakitan untuk menghasilkan barang dan jasa dengan secara tepat, baik jenis, mutu, jumlah maupun waktunya, disertai dengan biaya yang minim. Dalam rangka memnuhi tugas manajemen operasi seperti disebutkan diatas. Sistem Informasi Manajemen (SIM) berperan untuk memnerikan informasi berbagai fasilitas operasi secara benar, lengkap, dan tepat waktu sehingga pimpinan perusahaan dapat mengambil langkah-langkah yang efektif dalam upaya melaksanakan operasi perusahaan. Ruang lingkup SIM di bidang operasi tidak hanya berkaitan dengan pengendalian persediaan (inventory control) dan pengendalian mutu (quality control), tetapi menyangkut berbagai aspek proses operasi.
Untuk mengorganisir antar bagian agar berkinerja secara efektif dan efisien, manajemen perlu menyiapkan system aplikasi pembantu (sofrware) computer.

2.7  RISIKO
Risiko yang akan dihadapi dalam sapek teknik/ operasi dan teknologi adalah sebagai berikut:
a.       Kesalahan menentukan lokasi, baik lokasi pabrik, kantor maupun gudang sehingga terjadi inefisiensi biaya.
b.      Kesalahan menata layout pabrik, kantor, gudang maupun toko sehingga kurang menarik bagi konsumen.
c.       Kesalahan memilih teknologi yang digunkan sehingga operasional perusahaan tidak optimal dancepat ketinggalan jaman.
d.      Risiko sistem informasi terutama terkait dengan komputerisasi (kerusakan data, kehilangan data karena adanya virus, kesalahan pemakai, kerusakan perangkat keras atau perangkat lunak, adanya hacker, dan lain-lain)
e.       Pemasok tidak memenuhi komitmen yang sudah mereka buat, misalnya komponen-komponen yang dibutuhkan ternyata terlambat dikirim ataupun ruask.
f.       Berkurangnya daya saing produk dengan produk sejenis di pasar, misalnya karena desain yang dibuat dengan teknologi yang sudah tertinggal.


B A B III  P E N U T U P

3.1  Kesimpulan
Kajian aspek dan teknologi menekankan pada analisis penilaian atas kelayakan proyek bisnis dar sisi teknik dan teknologi yang mencakup penentuan lokasi proyek dengan mempertimbangkan faktor-faktor primer dan faktor-faktor sekunder. Teknik analisis yang digunakan untuk menetukan kelayakannya dengan menggunakan metode kualitatif subyektif, metode perbandingan biaya, dan metode transportasi. Pemilihan mesin dan peralatan serta teknologi harus mempertimbangkan suku cadang, pemasok, kapasitas produksi, kemampuan SDM, dan kualitas yang disyaratkan. Penentuan layout  baik untuk perusahaan manufaktur maupun jasa. Penentuan skala operasi dengan menggunakan beberapa metode diantaranya break evemt point, marginal cost, dan  marginal revenue, dan linear programming. Manajemen persediaan terkait dengan penentuan jumlah order, safety stock, inventory system, dan material requirement planning. Sistem informasi manajenen terkait dengan system aplikasi pembantu (software) computer untuk mengorganisir antar bagian agar berkinerja secara efetif dan efisien. Dalam pandangan Islam, untuk menjalankan operasional perusahaan yang harus diperhatikan adalah kehalalan masukan berupa sumber daya yang diperlukan sehingga dapat menghasilkan keluaran yang halal pula.
Hasil analisis terhadap elemen-elemen diatas, akan berupa pernyataan apakah rencana proyek bisnis dinyatakan layak atau tidak. Jika dinyatakan layak, maka bisa dilanjutkan pada kajian aspek yang lain. Tetapi jika dinyatakan tidak layak, dapat dilakukan kajian ulang yang lebih realisitis dengan melakukan penyesuaian serta perbaikan yang memungkinkan kajian menjadi layak. Namun demikian, jika tidak munkin dilakukan perbaikan sebaiknya mencari alternatif bisnis yang lain.
















INFLASI: KURVA PHILLIPS

MODEL DINAMIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN AGREGRATE Seperti namanya, model baru ini menekankan sifat dinamis dari fluktuasi ekonomi sebagai ...